<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>memperbaiki pemahaman dengan mengikuti pemahaman para salaf</title>
	<atom:link href="http://abuabyank.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuabyank.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Aug 2010 22:02:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abuabyank.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>memperbaiki pemahaman dengan mengikuti pemahaman para salaf</title>
		<link>http://abuabyank.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuabyank.wordpress.com/osd.xml" title="memperbaiki pemahaman dengan mengikuti pemahaman para salaf" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abuabyank.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hukum Ringkas Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://abuabyank.wordpress.com/2010/08/06/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://abuabyank.wordpress.com/2010/08/06/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 22:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuabyank.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Diantara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut. Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=118&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi</em></p>
<p>Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Diantara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.<br />
Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.</p>
<p>Hukum puasa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Adapun puasa wajib terbagi menjadi 3: puasa Ramadhan, puasa kaffarah (puasa tebusan), dan puasa nadzar.</p>
<p><strong>Keutamaan Bulan Ramadhan</strong><br />
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ</p>
<p>“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)<br />
Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ</p>
<p>“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><span id="more-118"></span></p>
<p>Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (Al-Qadar: 1-5)</p>
<p><strong>Penghapus Dosa</strong><br />
Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah radiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ</p>
<p>“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)</p>
<p>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)</p>
<p><strong>Rukun Berpuasa</strong></p>
<p><em>a. Berniat sebelum munculnya fajar shadiq</em>. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassallam :</p>
<p>إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ</p>
<p>“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits ‘Umar bin Al-Khaththab radiyallahu &#8216;anhu )<br />
Juga hadits Hafshah radiyallahu &#8216;anha, bersabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam:</p>
<p>مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ</p>
<p>“Barangsiapa yang tidak berniat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)</p>
<p>Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini mudhtharib (goncang) walaupun sebagian ulama menghasankannya.<br />
Namun mereka mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Hafshah, ‘Aisyah radiyallahu &#8216;anha, dan tidak ada yang menyelisihinya dari kalangan para shahabat.</p>
<p>Persyaratan berniat puasa sebelum fajar dikhususkan pada puasa yang hukumnya wajib, karena Rasulullah n pernah datang kepada ‘Aisyah radiyallahu &#8216;anha pada selain bulan Ramadhan lalu bertanya: “Apakah kalian mempunyai makan siang? Jika tidak maka saya berpuasa.” (HR. Muslim)</p>
<p>Masalah ini dikuatkan pula dengan perbuatan Abud-Darda, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan Hudzaifah ibnul Yaman rahimahumullah. Ini adalah pendapat jumhur.</p>
<p>Para ulama juga berpendapat bahwa persyaratan niat tersebut dilakukan pada setiap hari puasa karena malam Ramadhan memutuskan amalan puasa sehingga untuk mengamalkan kembali membutuhkan niat yang baru. Wallahu a’lam.</p>
<p>Berniat ini boleh dilakukan kapan saja baik di awal malam, pertengahannya maupun akhir. Ini pula yang dikuatkan oleh jumhur ulama [1]</p>
<p><em>b. Menahan diri dari setiap perkara yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari</em>.<br />
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab radiyallahu &#8216;anha bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَأَدْرَكَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ</p>
<p>“Jika muncul malam dari arah sini (barat) dan hilangnya siang dari arah sini (timur) dan matahari telah terbenam, maka telah berbukalah orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Puasa dimulai dengan munculnya fajar. Namun kita harus hati-hati karena terdapat dua jenis fajar, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Fajar kadzib ditandai dengan cahaya putih yang menjulang ke atas seperti ekor serigala. Bila fajar ini muncul masih diperbolehkan makan dan minum namun diharamkan shalat Shubuh karena belum masuk waktu.</p>
<p>Fajar yang kedua adalah fajar shadiq yang ditandai dengan cahaya merah yang menyebar di atas lembah dan bukit, menyebar hingga ke lorong-lorong rumah. Fajar inilah yang menjadi tanda dimulainya seseorang menahan makan, minum dan yang semisalnya serta diperbolehkan shalat Shubuh.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radiyallahu &#8216;anhuma bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>الْفَجْرُ فَجْرَانِ فَأَمَّا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَلاَ يُحِلُّ الصَّلاَةَ وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنَّهُ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَيُحِلُّ الصَّلاَةَ</p>
<p>“Fajar itu ada dua, yang pertama tidak diharamkan makan dan tidak dihalalkan shalat (Shubuh). Adapun yang kedua (fajar) adalah yang diharamkan makan (pada waktu tersebut) dan dihalalkan shalat.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 1/304, Al-Hakim, 1/304, dan Al-Baihaqi, 1/377)<br />
Namun para ulama menghukumi riwayat ini mauquf (hanya perkataan Ibnu ‘Abbas c dan bukan sabda Nabi n). Di antara mereka adalah Al-Baihaqi, Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/165), Abu Dawud dalam Marasil-nya (1/123), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh-nya (3/58). Juga diriwayatkan dari Tsauban dengan sanad yang mursal. Sementara diriwayatkan juga dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Footnote :<br />
1. Cukup dengan hati dan tidak dilafadzkan dan makan sahurnya seseorang sudah menunjukkan dia punya niat berpuasa, red</p>
<p>Siapa yang Diwajibkan Berpuasa?</p>
<p>Orang yang wajib menjalankan puasa Ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu. Telah sepakat para ulama bahwa puasa diwajibkan atas seorang muslim yang berakal, baligh, sehat, mukim, dan bila ia seorang wanita maka harus bersih dari haidh dan nifas.<br />
Sementara itu tidak ada kewajiban puasa terhadap orang kafir, orang gila, anak kecil, orang sakit, musafir, wanita haidh dan nifas, orang tua yang lemah serta wanita hamil dan wanita menyusui.</p>
<p>Bila ada orang kafir yang berpuasa, karena puasa adalah ibadah di dalam Islam maka tidak diterima amalan seseorang kecuali bila dia menjadi seorang muslim dan ini disepakati oleh para ulama.<br />
Adapun orang gila, ia tidak wajib berpuasa karena tidak terkena beban beramal. Hal ini berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِي حَتَّى يَحْتَلِمَ</p>
<p>“Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)</p>
<p>Meski anak kecil tidak memiliki kewajiban berpuasa sebagaimana dijelaskan hadits di atas, namun sepantasnya bagi orang tua atau wali yang mengasuh seorang anak agar menganjurkan puasa kepadanya supaya terbiasa sejak kecil sesuai kesanggupannya.</p>
<p>Sebuah hadits diriwayatkan Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radiyallahu &#8216;anha:<br />
“Utusan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassallam mengumumkan di pagi hari ‘Asyura agar siapa di antara kalian yang berpuasa maka hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa yang telah makan maka jangan lagi dia makan pada sisa harinya. Dan kami berpuasa setelah itu dan kami mempuasakan kepada anak-anak kecil kami. Dan kami ke masjid lalu kami buatkan mereka mainan dari wol, maka jika salah seorang mereka menangis karena (ingin) makan, kamipun memberikan (mainan tersebut) padanya hingga mendekati buka puasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sementara itu, bagi orang-orang lanjut usia yang sudah lemah (jompo), orang sakit yang tidak diharapkan sembuh, dan orang yang memiliki pekerjaan berat yang menyebabkan tidak mampu berpuasa dan tidak mendapatkan cara lain untuk memperoleh rizki kecuali apa yang dia lakukan dari amalan tersebut, maka bagi mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib membayar fidyah yaitu memberi makan setiap hari satu orang miskin.</p>
<p>Berkata Ibnu Abbas radiyallahu &#8216;anhuma:<br />
“Diberikan keringanan bagi orang yang sudah tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari kepada seorang miskin dan tidak ada qadha atasnya.” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh keduanya)</p>
<p>Anas bin Malik radiyallahu &#8216;anhu tatkala sudah tidak sanggup berpuasa maka beliau memanggil 30 orang miskin lalu (memberikan pada mereka makan) sampai mereka kenyang. (HR. Ad-Daruquthni 2/207 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 7/204 dengan sanad yang shahih. Lihat Shifat Shaum An-Nabi, hal. 60)</p>
<p>Orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib atas mereka menggantinya di hari yang lain adalah musafir, dan orang yang sakit yang masih diharap kesembuhannya yang apabila dia berpuasa menyebabkan kekhawatiran sakitnya bertambah parah atau lama sembuhnya.<br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)<br />
Demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap janinnya atau anaknya bila dia berpuasa, wajib baginya meng-qadha puasanya dan bukan membayar fidyah menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama.<br />
Hal ini berdasar hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi z, bersabda Rasulullah n:</p>
<p>إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمَ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ</p>
<p>“Sesungguhnya Allah telah meletakkan setengah shalat dan puasa bagi orang musafir dan (demikian pula) bagi wanita menyusui dan yang hamil.” (HR. An-Nasai, 4/180-181, Ibnu Khuzaimah, 3/268, Al-Baihaqi, 3/154, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)<br />
Yang tidak wajib berpuasa namun wajib meng-qadha (menggantinya) di hari lain adalah wanita haidh dan nifas.<br />
Telah terjadi kesepakatan di antara fuqaha bahwa wajib atas keduanya untuk berbuka dan diharamkan berpuasa. Jika mereka berpuasa, maka dia telah melakukan amalan yang bathil dan wajib meng-qadha.</p>
<p>Diantara dalil atas hal ini adalah hadits Aisyah radiyallahu &#8216;anha:</p>
<p>كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلاَ نُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ</p>
<p>“Adalah kami mengalami haidh lalu kamipun diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p><em>(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi, judul asli Hukum Ringkas Puasa Ramadhan. URL Sumber http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=295)<br />
Sumber : </em><a href="http://www.salafy.or.id">www.salafy.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuabyank.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuabyank.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=118&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuabyank.wordpress.com/2010/08/06/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41ebed1138be0b2073c4732311cdb84d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masnuaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rangkuman artikel menyambut bulan suci Ramadhan 1431</title>
		<link>http://abuabyank.wordpress.com/2010/08/02/rangkuman-artikel-menyambut-bulan-suci-ramadhan-1431/</link>
		<comments>http://abuabyank.wordpress.com/2010/08/02/rangkuman-artikel-menyambut-bulan-suci-ramadhan-1431/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 05:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Rangkuman artikel menyambut bulan suci Ramadhan 1431]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuabyank.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Berikut artikel seputar Ramadhan yang bersumber dari salafy.or.id semoga bermanfaat dalam mempersiapkan ilmu dalam mengisi bulan Ramadhan mendatang. a. Persiapan Menjelang Ramadhan 1. Menyambut bulan suci Ramadhan 2. Definisi &#38; Sejarah Turunnya Syariat Shaum Ramadhan 3. Hukum Ringkas Puasa Ramadhan 4. Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum 5. Penentuan Hilal awal bulan Ramadhan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=129&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah</p>
<p>Berikut artikel seputar Ramadhan yang bersumber dari <a href="http://salafy.or.id">salafy.or.id</a> semoga bermanfaat dalam mempersiapkan ilmu dalam mengisi bulan Ramadhan mendatang.</p>
<p><strong>a. Persiapan Menjelang Ramadhan</strong></p>
<p>1. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1333" target="_blank">Menyambut bulan suci Ramadhan</a></p>
<p>2. <a href="http://http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1348" target="_blank">Definisi &amp; Sejarah Turunnya Syariat Shaum Ramadhan</a></p>
<p>3. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1316">Hukum Ringkas Puasa Ramadhan</a></p>
<p>4. <a href="http://http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1320">Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum</a></p>
<p>5. <a href="http://http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=265" target="_blank">Penentuan Hilal awal bulan Ramadhan dan Syawal</a></p>
<p>6. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1339">Memulai Shaum Ramadhan Berdasarkan Ru’yatul Hilal</a></p>
<p>7. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1338">Ketika Ru’yatul Hilal Terhalangi oleh Mendung</a></p>
<p><span id="more-129"></span></p>
<p>8. <a href="http://http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1337" target="_blank">Menggunakan metode Hisab dalam penentuan Ramadhan</a></p>
<p>9. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1340" target="_blank">Meneropong Keabsahan Ilmu Hisab</a></p>
<p>10. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=990" target="_blank">Penentuan Awal Hijriyah Bersama Pemerintah</a></p>
<p>11. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1336" target="_blank">Pendapat Para Ulama Tentang Perbedaan Lokasi Terbitnya (Mathla&#8217;) Bulan</a></p>
<p>12. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1335" target="_blank">Menyikapi orang yang melihat Hilal sendirian</a></p>
<p>13. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1341" target="_blank">Koreksi atas hadits terkait bulan Ramadhan (1)</a></p>
<p>14. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1342" target="_blank">Koreksi atas hadits terkait bulan Ramadhan (2)</a></p>
<p>15. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1343">Seputar fiqh kewanitaan di bulan Ramadhan (1)</a></p>
<p>16. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1344" target="_blank">Seputar fiqh kewanitaan di bulan Ramadhan (2)</a></p>
<p>17. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1347" target="_blank">Awas !!! Perkara Pembatal Pahala Puasa Kita</a></p>
<p>18. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1490" target="_blank">Fatwa Syaikh Utsaimin Seputar Bulan Ramadhan</a></p>
<p>19. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1500" target="_blank">Fatwa ‘Ulama tentang Ru`yah &#8211; Hisab</a></p>
<p>20. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1501" target="_blank">Hukum bersandar pada Hisab Falaki</a></p>
<p>21. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1502" target="_blank">Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1430 H</a></p>
<p>22. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1504" target="_blank">Menyambut Ramadhan Sesuai Tuntunan Nabi</a></p>
<p>23. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1506" target="_blank">Doa Ketika Melihat Hilal</a></p>
<p>24. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1507" target="_blank">Hukum Mengucapkan Selamat dengan Datangnya Bulan Ramadhan</a></p>
<p>25. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1508" target="_blank">Keistimewaan Bulan Ramadhan, Keutamaan dan Manfaat Puasa</a></p>
<p>26. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1509" target="_blank">Adab-Adab Puasa</a></p>
<p>27. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1510" target="_blank">Menyambut Kemenangan di Bulan Ramadhan</a></p>
<p>28. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1660" target="_blank">Menyambut Bulan Ramadhan, Hati-hati Ritual Anehnya (baru)</a></p>
<p>29. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1661" target="_blank">Hukum Berpuasa Ketika Safar (baru)</a></p>
<p>30. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1663" target="_blank">Beberapa Kesalahan dalam Bulan Ramadhan (baru)</a></p>
<p><strong>b. Memasuki bulan suci Ramadhan</strong></p>
<p>1. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1106" target="_blank">Introspeksi Diri di Bulan Suci Ramadhan</a></p>
<p>2. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=299" target="_blank">Keutamaan Puasa di Bulan Ramadhan</a></p>
<p>3. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1354" target="_blank">Hikmah &amp; Fadhilah (Keutamaan) Shaum</a></p>
<p>4. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=301" target="_blank">Wajibnya Puasa Ramadhan</a></p>
<p>5. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=302" target="_blank">Targhib (Penyemangat) Bagi yang Puasa Ramadhan</a></p>
<p>6. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=303" target="_blank">Ancaman bagi yang membatalkan Puasa Ramadhan</a></p>
<p>7. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=987" target="_blank">Amalan di bulan Ramadhan (Adab, Hikmahnya)</a></p>
<p>8. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1334" target="_blank">Puasa di hari yang diragukan</a></p>
<p>9. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1318" target="_blank">Hal-hal yang dianggap membatalkan Puasa</a></p>
<p>10. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=304" target="_blank">Hukum-hukum Dalam Puasa Ramadhan</a></p>
<p>11. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=755" target="_blank">Mengawali dan Mengakhiri Bulan Ramadhan</a></p>
<p>12. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=305" target="_blank">Niat dalam berpuasa wajib di bulan Ramadhan</a></p>
<p>13. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=306" target="_blank">Waktu Berpuasa dan yang berkaitan tentangnya</a></p>
<p>14. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=307" target="_blank">Sahur dalam Puasa di Bulan Ramadhan</a></p>
<p>15. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1355" target="_blank">Sahur dan yang berkaitan dengannya</a></p>
<p>16. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=988" target="_blank">Amalan di Bulan Ramadhan (Sahur dan Berbuka)</a></p>
<p>17. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1322" target="_blank">Sahur &amp; Berbuka</a></p>
<p>18. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1323" target="_blank">Keutamaan Malam Seribu Bulan</a></p>
<p>19. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=989" target="_blank">Amalan di Bulan Ramadhan (Ibadah malam Lailatul Qadr)</a></p>
<p>20. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=312" target="_blank">Kelapangan dan Kemudahan dalam Puasa Ramadhan</a></p>
<p>21. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=313" target="_blank">Petunjuk Berbuka seperti Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi Wassalam</a></p>
<p>22. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=320" target="_blank">Membayar Hutang Puasa (Qadha&#8217;) Sesegera Mungkin</a></p>
<p>23. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1321" target="_blank">Shalat Tarawih</a></p>
<p>24. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=321" target="_blank">Bagaimana Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Rasulullah</a></p>
<p>25. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=752" target="_blank">Lagi, bagaimana Rasulullah sholat Tarawih/Lail &amp; ragam raka&#8217;atnya</a></p>
<p>26. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=759" target="_blank">Bantahan : Sholat Tarawih Rasulullah bukan 20 Raka&#8217;at</a></p>
<p>27. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=760" target="_blank">Ringkasan ragam sholat Tarawih &amp; qunut witir Rasulullah</a></p>
<p>28. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=798" target="_blank">Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</a></p>
<p>29. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=760" target="_blank">Fatwa Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam Qunut Witir</a></p>
<p>30. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=757" target="_blank">Malam Lailatul Qadar, malam Seribu Bulan</a></p>
<p>31. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=761" target="_blank">I&#8217;tikaf seperti Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</a></p>
<p>32. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=762" target="_blank">Hukum-hukum sekitar I&#8217;tikaf dalam pandangan Ulama&#8217; Ahlusunnah</a></p>
<p>33. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=341" target="_blank">Fatwa Syaikh tentang Hukum I&#8217;tikaf</a></p>
<p>34. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1105" target="_blank">Koreksi Kekeliruan dalam Bulan Ramadhan</a></p>
<p>35. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=753" target="_blank">Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan</a></p>
<p>36. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=308" target="_blank">Hal yang wajib dijauhi oleh orang yg shaum (puasa)</a></p>
<p>37. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=319" target="_blank">Perkara perusak pahala puasa Ramadhan</a></p>
<p>38. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=309" target="_blank">Hal yang boleh dikerjakan oleh orang yg shaum</a></p>
<p>39. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1357" target="_blank">Mengoreksi kekeliruan dalam ibadah Ramadhan kita (1)</a></p>
<p>40. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1358" target="_blank">Mengoreksi kekeliruan dalam ibadah Ramadhan kita (2)</a></p>
<p>41. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1319" target="_blank">Jima&#8217; Saat Puasa Ramadhan</a></p>
<p>42. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=758" target="_blank">Fatwa-fatwa Seputar Puasa dan Ramadlan</a></p>
<p>43. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=322" target="_blank">Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan</a></p>
<p>44. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1349" target="_blank">Puasa bagi anak kecil yang belum baligh</a></p>
<p>45. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=756" target="_blank">Siapa yang layak membayar fidyah secara syar&#8217;i ?</a></p>
<p>46. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1356" target="_blank">Fidyah &amp; yang terkait dengannya</a></p>
<p>47. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=777" target="_blank">Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</a></p>
<p>48. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=778" target="_blank">Lagi, hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan</a></p>
<p>49. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=121" target="_blank">Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri</a></p>
<p>50. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=764" target="_blank">Beberapa faidah ibadah berpuasa kita</a></p>
<p>51. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=766" target="_blank">Menunaikan zakat, upaya pembersihan harta kita</a></p>
<p>52. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=777" target="_blank">Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</a></p>
<p>53. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=801" target="_blank">Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal)</a></p>
<p>54. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=785" target="_blank">Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat</a></p>
<p>55. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=786" target="_blank">Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya</a></p>
<p>56. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=787" target="_blank">Hukum-hukum seputar zakat fitrah</a></p>
<p>57. <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1107" target="_blank">Zakat Fitrah Pembersih Jiwa</a></p>
<p>58. <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1505" target="_blank">Hukum Menunda Pembayaran Hutang Puasa</a></p>
<p><strong>c. Memasuki Hari Raya Iedhul Fithri</strong></p>
<p>1. <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=800" target="_blank">Rangkuman artikel seputar Hari Raya Iedhul Fithri </a></p>
<p>Redaksi Salafy.or.id ( <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1662">http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1662</a> )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuabyank.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuabyank.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=129&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuabyank.wordpress.com/2010/08/02/rangkuman-artikel-menyambut-bulan-suci-ramadhan-1431/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41ebed1138be0b2073c4732311cdb84d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masnuaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah</title>
		<link>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/30/nasehat-al-imam-ahmad-bin-hanbal-rahimahullah/</link>
		<comments>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/30/nasehat-al-imam-ahmad-bin-hanbal-rahimahullah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 02:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuabyank.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam Al Ilmu Edisi No : 32/VIII/VIII/1431 Para pembaca rahimakumullah, Telah diulas pada edisi yang lalu kisah kehidupan seorang ‘alim yang sangat bersemangat di dalam menuntut ilmu dan beribadah. Juga tentang kesabarannya yang luar biasa di dalam menghadapi berbagai ujian demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah. Guru beliau, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku keluar dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=123&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color:#ff6600;"><strong>Buletin Islam Al Ilmu Edisi No : 32/VIII/VIII/1431</strong></span></em></p>
<p>Para pembaca <em>rahimakumullah</em>,</p>
<p>Telah diulas pada edisi yang lalu kisah kehidupan seorang ‘alim yang sangat bersemangat di dalam menuntut ilmu dan beribadah. Juga tentang kesabarannya yang luar biasa di dalam menghadapi berbagai ujian demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.</p>
<p>Guru beliau, Al-Imam Asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata: “Aku keluar dari ‘Iraq. Dan tidaklah aku tinggalkan di kota tersebut seseorang yang paling utama, paling berilmu, paling wara’ dan paling bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”</p>
<p>Al-Imam Abdurrazzaq Ash-Shan’ani <em>rahimahullah</em> berkata: “Tidaklah aku melihat orang yang paling pandai dan paling wara’ daripada Ahmad bin Hanbal.”</p>
<p>Yahya bin Sa’id Al-Qaththan <em>rahimahullah</em> berkata: “Tidaklah ada seorangpun yang datang ke Baghdad yang lebih aku cintai daripada Ahmad bin Hanbal.”</p>
<p>Karya-karya tulis beliau <em>rahimahullah</em> sangatlah banyak, diantaranya ada yang berjudul “Fadhail Shahabah”, “Az-Zuhd”, “Kitab Tafsir”, “An-Nasikh wa Al-Mansukh”, “At-Tarikh”, “Ahadits Syu’bah”, dan lain-lain. Yang paling terkenal dari karya-karya beliau adalah “Al-Musnad”. Al-Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata: “Tidak ada satu kitab musnad pun yang sebanding dengan kitab musnad karya Imam Ahmad dalam hal banyaknya jumlah hadits yang ada di dalamnya dan juga dalam hal bagusnya sistematika penyusunan.”</p>
<p><span id="more-123"></span></p>
<p>Pada edisi kali ini kami ingin menampilkan berbagai nasehat dan bimbingan beliau, agar kita dapat mencontoh beliau di dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi<strong>.</strong></p>
<p><em><strong>Amalan yang paling utama</strong></em></p>
<p>Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>:</p>
<p>“Beritakan kepada kami amalan apakah yang paling utama?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Menuntut ilmu.”</p>
<p>Dia bertanya kembali: “Bagi siapa?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Bagi orang yang benar niatnya.”</p>
<p>Dia bertanya kembali: “Apa saja yang bisa membenarkan niat itu?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Dengan meniatkan dirinya agar bisa bertawadhu’ dan menghilangkan kebodohan darinya.”</p>
<p><em><strong>Kewajiban Menuntut Ilmu</strong></em></p>
<p>“Setiap orang wajib menuntut ilmu yang menjadikan agamanya tegak dengannya.”</p>
<p>Ditanyakan kepada beliau, “Seperti apa halnya?”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab, “Yang ia tidak boleh bodoh (tidak berilmu) tentang sholat, puasa, dan lainnya.”</p>
<p><em><strong>Kemuliaan hati</strong></em></p>
<p>Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki kemuliaan, dan kemuliaan hati adalah ridha kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> .</p>
<p><em><strong>Mengingat Mati</strong></em></p>
<p>Bahwasanya Imam Ahmad jika disebutkan tentang kematian maka beliau menangis tersedu-sedu. Dan beliau berkata: “Rasa takut telah menghalangiku untuk menyantap makanan dan minuman.”</p>
<p><em><strong>Anjuran untuk berusaha</strong></em></p>
<p>Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad:</p>
<p>“Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang duduk di rumahnya atau di masjidnya kemudian berkata: “Aku tidak akan bekerja apapun sampai rizki itu yang datang sendiri kepadaku.”</p>
<p>Beliau berkata: “Ini adalah seorang laki-laki yang tidak mengetahui ilmu. Tidakkah dia mendengar ucapan Rasulullah: ‘dijadikan rizki-ku di bawah naungan tombakku.’ Dan hadits yang lainnya tentang seekor burung yang di pagi hari dalam keadaan lapar kemudian pergi untuk mencari makan. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah (rizki).” [Al-Muzammil: 20]</p>
<p><em><strong>Zuhud</strong></em></p>
<p>Zuhud di dunia adalah: pendek angan-angan dan berputus asa (tidak mengharapkan) dari apa yang ada di tangan manusia.</p>
<p><em><strong>Kemuliaan sahabat Rasulullah</strong></em></p>
<p>Jika engkau melihat seseorang menyebutkan tentang salah seorang dari sahabat rasulullah dengan kejelekan maka ragukanlah keislamannya.</p>
<p><em><strong>Merasakan kesenangan</strong></em></p>
<p>Ada seseorang bertanya kepada beliau: “Kapan seorang hamba akan  merasakan kesenangan?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Dia akan merasakan kesenangan tatkala mulai memasuki Al-Jannah (surga).”</p>
<p><em><strong>Manusia pada hari kiamat</strong></em></p>
<p>Sesungguhnya Allah membangkitkan para hamba pada hari kiamat atas 3 keadaan:</p>
<ol>
<li>Orang baik  yang tidak ada jalan untuk menyalahkannya. Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> berfirman (artinya): “Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” [<strong>At-Taubah: 91</strong>]</li>
<li>Orang yang kafir mereka berada dalam An-Naar (neraka), Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> berfirman (artinya): “Dan orang-orang yang kafir, mereka berada di dalam Jahannam.” [<strong>Fathir: 36</strong>]</li>
<li>Orang yang berdosa (dibawah dosa syrik), maka perkaranya diserahkan kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka ia akan diadzab, dan jika Allah berkehendak, ia akan diampuni. Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> berfirman (artinya): “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni semua dosa yang dibawah dosa syirik bagi siapa yang dikehendakinya.” [<strong>An-Nisaa: 48</strong> dan <strong>116</strong>]</li>
</ol>
<p><em><strong>Hartawan yang zuhud</strong></em></p>
<p>Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta sebanyak 1000 dinar, apakah dia bisa dikatakan zuhud?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Ya, dengan syarat dia tidak gembira ketika hartanya bertambah dan tidak bersedih ketika hartanya berkurang.”</p>
<p><em><strong>Menjaga harga diri</strong></em></p>
<p>Beliau pernah berdoa dalam sujudnya:</p>
<p>“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku dari sujud kepada selain-Mu, maka jagalah wajahku dari meminta-minta kepada selain-Mu.”</p>
<p><em><strong>Zakatnya ilmu</strong></em></p>
<p>Beliau pernah ditanya tentang seorang yang banyak menulis hadits, maka beliau memberikan jawaban:</p>
<p>“Seharusnya bagi dia untuk memperbanyak amalan sebatas apa yang dia peroleh dalam mencari hadits tersebut.” Kemudian beliau melanjutkan ucapannya: “Jalannya ilmu itu sama dengan jalannya harta. Sesungguhnya harta itu jika bertambah maka bertambah pula zakatnya.”</p>
<p><em><strong>Kesempurnaan makanan</strong></em></p>
<p>Jika terkumpul pada makanan itu 4 hal maka sungguh telah sempurna:</p>
<ol>
<li>Jika disebutkan nama Allah, pada awalnya.</li>
<li>Memuji nama Allah pada akhirnya.</li>
<li>Memperbanyak jumlah orang yang makan.</li>
<li>Makanan tersebut diperoleh dari jalan yang halal.</li>
</ol>
<p><em><strong>Tingkatan-tingkatan Zuhud</strong></em></p>
<p>Dalam zuhud ada tiga tingkatan:</p>
<ol>
<li>Meninggalkan yang haram. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang awam.</li>
<li>Meninggalkan sesuatu yang kurang bermanfaat dari perkara yang halal. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang khusus.</li>
<li>Meninggalkan sesuatu yang menyibukkan dari Allah. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang telah mengenal Rabbnya.</li>
</ol>
<p><em><strong>Sikap dalam shalat</strong></em></p>
<p>Beliau pernah ditanya: “Apa makna dari meletakkan tangan yang kanan diatas tangan yang kiri?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Merendahkan diri dihadapan Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>.”</p>
<p><em><strong>Ketakwaan hati</strong></em></p>
<p>‘Ali bin Al-Madini <em>rahimahullah</em> berkata: “Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> berkata kepadaku, ‘Sebenarnya aku ingin menemanimu  pergi ke Makkah dan tidaklah ada yang menghalangiku untuk menemanimu kecuali aku khawatir akan membuatmu bosan atau engkau yang membuatku bosan.’</p>
<p>Ali <em>rahimahullah</em> berkata: “Ketika  aku akan berpisah, kukatakan kepadanya: ‘Wahai  Abu ‘Abdillah, berilah aku suatu wasiat?’</p>
<p>Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata: “Ya, tetapkanlah ketakwaan itu dalam hatimu, dan tegakkanlah akhirat itu dihadapanmu.”</p>
<p><em><strong>Bersegera dalam kebaikan </strong></em></p>
<p>Setiap sesuatu dari kebaikan hendaklah engkau memberi perhatian padanya, kemudian bersegera untuk memperolehnya sebelum terhalang antaramu dengan kebaikan tersebut.</p>
<p><em><strong>Ringan dalam hisab</strong></em></p>
<p>Suatu yang sedikit dari perkara dunia maka kelak hisab (perhitungan)nya akan ringan di akhirat</p>
<p><em><strong>Berkurangnya keimanan</strong></em></p>
<p>Iman bisa bertambah dan berkurang. kebaikan semuanya adalah bagian dari iman (menambah keimanan –red) dan kemaksiatan dapat mengurangi keimanan.</p>
<p><em><strong>Semangat belajar</strong></em></p>
<p>Tidaklah seseorang akan patah semangat di dalam menuntut ilmu kecuali orang yang bodoh.</p>
<p><em><strong>Keikhlasan</strong></em></p>
<p>Al-Ikhlas adalah hendaklah amalanmu diniatkan dalam rangka ibadah dan meninggalkan sesuatu yang haram, serta meniatkan setiap kebaikan dan ketakwaan hanya semata-mata ditujukan kepada Allah. Ikhlas adalah ruhnya amalan. Amalan tanpa ruh ibarat mayit. Allah tidak menerima amalan tersebut dan tidaklah dia akan selamat dari api neraka.</p>
<p><em><strong>Semangat beramal</strong></em></p>
<p>Tidaklah aku menulis sebuah hadits kecuali aku telah mengamalkannya walaupun cuma satu kali supaya tidak menjadi hujjah pada diriku kelak, sampaipun shalat 2 rakaat Maghrib antara adzan dan iqamat (aku telah mengamalkannya).</p>
<p><em><strong>Doa beliau</strong></em></p>
<p>Ya Allah, janganlah Engkau sibukkan hati kami dengan sesuatu yang telah Engkau bebankan kepada diri kami.</p>
<p>Dan janganlah Engkau menghalangi diri kami dari kebaikan yang ada pada-Mu dengan suatu kejelekan yang ada pada diri kami.</p>
<p>Dan janganlah Engkau perlihatkan pada diri kami apa yang telah Engkau larang.</p>
<p>Dan janganlah Engkau luputkan bagi diri kami apa-apa yang telah Engkau perintahkan.</p>
<p>Muliakanlah diri kami dan janganlah Engkau hinakan diri kami.</p>
<p>Muliakanlah diri kami dengan ketaatan dan janganlah Engkau hinakan diri kami dengan kemaksiatan.</p>
<p><strong><em>Maraji’:</em> </strong></p>
<ol>
<li><em></em><em>Mawa’izh Al-Imam Ahmad</em></li>
<li><em>Musthalah Hadits</em> karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin <em>rahimahullah</em>, hal. 63-66.</li>
<li>Kitab <em>Fadhail Shahabah</em> jilid I</li>
<li><em>Siyar A’lamin Nubala</em></li>
<li><em>Bidayah wa Nihayah</em></li>
</ol>
<p>Sumber: <a href="http://www.buletin-alilmu.com/?p=497">http://www.buletin-alilmu.com/?p=497</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuabyank.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuabyank.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=123&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/30/nasehat-al-imam-ahmad-bin-hanbal-rahimahullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41ebed1138be0b2073c4732311cdb84d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masnuaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Penghuni Surga dan ciri-cirinya</title>
		<link>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/28/wanita-penghuni-surga-dan-ciri-cirinya/</link>
		<comments>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/28/wanita-penghuni-surga-dan-ciri-cirinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 01:42:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuabyank.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam Al Ilmu Edisi: 22 / VI / VIII / 1431 Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=120&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>Buletin Islam Al Ilmu Edisi: 22 / VI / VIII / 1431</strong></p>
<p>Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.</p>
<p><strong>Kenikmatan-kenikmatan di Al-Jannah (Surga)</strong><strong> </strong></p>
<p>Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala Shalallahu ‘alaihi wa Sallam rahimahullah</em> berfirman:</p>
<p><em>“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?”</em> <strong>(QS. Muhammad: 15)</strong></p>
<p><span id="more-120"></span></p>
<p><em>“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Merekalah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan piala berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.”</em> <strong>(QS. Al Waqiah: 10-21)</strong></p>
<p>Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala </em>kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya firman Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p><em>”Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.”</em> <strong>(QS. Al Waqiah: 22-23)</strong></p>
<p>Juga firman Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala </em>(yang artinya):</p>
<p><em>“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.”</em> <strong>(QS. Ar Rahman: 56)</strong></p>
<p>Juga firman Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala </em>(yang artinya):</p>
<p><em>“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.”</em> <strong>(QS. Ar Rahman: 58)</strong></p>
<p>Dan firman Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala </em>(yang artinya):</p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.”</em> <strong>(QS. Al Waqiah: 35-37)</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam </em>menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau:</p>
<p><em>”…seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.”</em> <strong>(HR. Bukhari dari Anas bin Malik <em>radliyallahu ‘anhu</em>)</strong></p>
<p>Dalam hadits lain Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam </em>bersabda:</p>
<p><em>“Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan berdendang bagi suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka: </em><em>”Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.”</em> Dan mereka juga mendendangkan: <em>”Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.”</em> <strong>(Shahih Al Jami’ nomor 1561)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ciri-Ciri Wanita Ahli Surga</strong></p>
<p>Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?</p>
<p>Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.</p>
<p>Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah:</p>
<p>1. Bertakwa.</p>
<p>2. Beriman kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.</p>
<p>4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala </em>seakan-akan melihat Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, jika dia tidak dapat melihat Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, dia meyakini bahwa Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> melihat dirinya.</p>
<p>5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, tawakkal kepada-Nya, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, mengharap rahmat Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em>, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.</p>
<p>6. Taat kepada suami (dalam hal <em>ma’ruf</em>/kebaikan)</p>
<p>7. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> semata.</p>
<p>8. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.</p>
<p>9. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.</p>
<p>10. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, suka berderma, menjaga diri dari meminta-minta, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.</p>
<p>11. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.</p>
<p>12. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk</p>
<p>13. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).</p>
<p>14. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.</p>
<p>15. Berbakti kepada kedua orang tua.</p>
<p>16. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.</p>
<p>17. Menutup aurat dan menjaga kehormatan dirinya.</p>
<p>18. Menundukkan pandangan</p>
<p>19. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islami.</p>
<p>Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab <strong>Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423</strong>. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah <em>Subhanallahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p><em>” … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.”</em> <strong>(QS. An Nisa’: 13).</strong></p>
<p><strong>Wallahu A’lam Bis Shawab.</strong><strong> </strong></p>
<p>(<em>Dikutip dari tulisan Al </em><em>Ustadz Azhari Asri dan Redaksi artikel Darus Sunnah</em><em>, berjudul Wanita Ahli Surga dan Ciri-cirinya. MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini, dengan beberapa tambahan</em>)</p>
<p>www.darussunnah.or.id</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuabyank.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuabyank.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=120&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/28/wanita-penghuni-surga-dan-ciri-cirinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41ebed1138be0b2073c4732311cdb84d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masnuaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Penghuni Neraka</title>
		<link>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/21/wanita-penghuni-neraka/</link>
		<comments>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/21/wanita-penghuni-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 12:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Penghuni Neraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuabyank.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Saudariku Muslimah … . Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang darinya. Setiap Muslimin yang mengerti keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=113&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Saudariku Muslimah … .</strong></p>
<p>Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang darinya.</p>
<p>Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.</p>
<p>Pada Kajian kali ini, kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya, yang mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang akan dibahas nanti.</p>
<p>Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :<br />
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)</p>
<p><span id="more-113"></span></p>
<p>Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”</p>
<p>Ibnu Abbas radliyallahu &#8216;anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.” Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Di dalam surat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)</p>
<p>Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.</p>
<p>Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu &#8216;anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” (Shahihul Jami’ 6618)</p>
<p>Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.</p>
<p><strong>Wanita Penghuni Neraka</strong></p>
<p>Tentang hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)</p>
<p>Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.</p>
<p>Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.<br />
Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu &#8216;anhum : “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu &#8216;anhuma)</p>
<p>Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)</p>
<p>Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal.<br />
Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)</p>
<p><strong>Saudariku Muslimah … .</strong></p>
<p>Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.</p>
<p>Saudariku Muslimah … . Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.</p>
<p><strong><em>1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya</em></strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.<br />
Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)</p>
<p>Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.</p>
<p>Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.</p>
<p>Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.</p>
<p><strong><em>2. Durhaka Terhadap Suami</em></strong></p>
<p>Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :<br />
<em>1. Durhaka dengan ucapan.<br />
2. Durhaka dengan perbuatan.<br />
3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.</em></p>
<p>Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.</p>
<p>Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.</p>
<p>Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i, pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)</p>
<p>Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang semisal dengan itu.</p>
<p>Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.</p>
<p>Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan.</p>
<p>Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan)</p>
<p>Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.</p>
<p>Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.</p>
<p>Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.</p>
<p>Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.</p>
<p><em><strong>3. Tabarruj</strong></em></p>
<p>Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)</p>
<p>Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tersebut.<br />
Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )</p>
<p>Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)</p>
<p>Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”</p>
<p>Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.</p>
<p>Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita.<br />
Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.</p>
<p>Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.</p>
<p>Wahai saudariku Muslimah … . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)<br />
Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.</p>
<p><strong>Saudariku Muslimah … .</strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda : “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)</p>
<p>Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin.</p>
<p>Wallahu A’lam bish Shawwab.</p>
<p>(Dikutip dari tulisan Muhammad Faizal Ibnu Jamil, Judul asli Wanita Penghuni Neraka, MUSLIMAH/Edisi XXII/1418/1997/Kajian Kali Ini. Url sumber <em><a href="http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/nar.htm">http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/nar.htm</a></em>)</p>
<p><a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=159">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=159</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuabyank.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuabyank.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuabyank.wordpress.com&amp;blog=14642861&amp;post=113&amp;subd=abuabyank&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuabyank.wordpress.com/2010/07/21/wanita-penghuni-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41ebed1138be0b2073c4732311cdb84d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masnuaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
